Sebagai putra asli Tuban, aku berinisiatif untuk sedikit menulis tentang kota tercinta, sekaligus menjadi media sharing kepada masyarakat dunia. Berikut aku menulis tentang koneksi para penyebar Agama Islam di Kota Tuban. 

Selamat Membaca…

Duet kepemimpinan kota Tuban, H. Fathul Huda dan Ir. H. Noor Nahar Hussein, MSi, memutuskan merekonstruksi nilai-nilai luhur para Wali dengan menggunakan city branding “Tuban Bumi Wali The Spirit of Harmony”. Tujuan membangun citra “Tuban Bumi Wali” agar masyarakat tetap memegang teguh karakteristik yang telah mengakar sejak dahulu. Karakter yang meneladani dan membangkitkan nilai-nilai spiritual, budi pekerti serta suri tauladan yang diwariskan para Wali. Dan secara visioner hal tersebut merupakan usaha Pemkab Tuban dalam memperbaiki tatanan sosial kemasyarakatan di Kabupaten Tuban. Dengan kemajemukan masyarakat yang ada, Bupati menegaskan jika pencitraan tersebut bukanlah bentuk Islamisasi. Melainkan berdasar pada aspek kesejarahan bahwa Kabupaten Tuban adalah bagian dari daerah pusat penyebaran agama Islam di tanah Jawa.
Salah satu alasan kenapa Tuban menjadi salah satu pusat penyebaran Islam di tanah Jawa adalah Pantai Boom dengan pelabuhannya. Tak hanya kegiatan perdagangan, namun pertukaran budaya dan penyebaran agama Islam oleh pedagang dari Pasai maupun langsung dari Timur Tengah berlangsung. Lambat laun keberadaan para pedagang Islam mulai di terima di masyarakat yang kala itu, Kadipaten Tuban menjadi salah satu daerah penting bagi Majapahit.

Jika kita melihat dari sisi jumlah, rata-rata di setiap kecamatan di Tuban memiliki lima hingga belasan makam yang di yakini sebagai makam penyebar agama Islam atau makam Wali yang tersebar di desa-desa. Dari yang sudah Populer dengan gelar ke-Wali-an seperti Sunan Bonang hingga Bupati Tuban pertama yang bergama Islam, Raden Aryo Tejo juga di kenal sebagai seorang Wali oleh masyarakat. Tak heran jika banyak di desa-desa di adakan kegiatan “HAUL” atau memperingati wafatnya para sesepuh atau Wali.

Kita coba mulai dari yang tertua. Salah satu penyebar agama Islam periode awal adalah Syekh Ahmad Kholil di kecamatan Jenu. Beliau salah satu Wali tua di Tuban. Beliau datang ke tanah Jawa sekitar tahun 743 M. lalu Syekh Maulana Ibrahim Asmara Bin Sayyid Jamaluddin Al Khusaini Al Kubro atau lebih populer dengan nama Sayyid Jumadil Kubro yang merupakan Wali Songo generasi pertama bersama Syekh Subakir datang ke tanah Jawa guna menyebarkan Islam. Syekh Subakir sendiri diketahui menyebarkan Islam di daerah Pantura dan Jenu. Sayyid Jumadil Kubro memiliki 21 anak diantaranya adalah Syekh Maulana Ibrahim Assamarqandi yang di makamkan di Palang. Beliau  menyebarkan Islam di Tuban bersama Syekh Andalusy (Sunan Andong Wilis Palang). Diantara putra Ibrahim Assamarqan adalah Raden Rahmat (Sunan Ampel) dan kakaknya, Sayyid Maulana Ishaq  yang di makamkan di Semanding. Dari Sunan Ampel berputra Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang) yang memiliki mantu darah asli orang Tuban yaitu Raden Said (Sunan Kalijaga), putra dari Raden Aryo Wilotikto, Bupati Kadipaten Tuban setelah Aryo Tejo.

Selanjutnya adalah Syekh Abdullah Asy’ari (Sunan Bejagung Lor) memiliki keturunan yang juga kelak menjadi Wali seperti Sunan Mruwut dan Sunan Waruju (Bejagung), pengeran Singo Negoro (Jetak, Montong), pangeran Banteng Plontang (Dagangan, Parengan), Syekh Ahmad Mutamakkin (Kajen, Pati), Syekh Muchyiddin (Singgahan), dan Nyai Faiqoh istri dari Sunan Bejagung Kidul (Singgahan). Lalu ada Waliyullah bernama Pangeran Wisanegara (Sunan Ngeso) di desa Pucangan, Montong yang merupakan Putra Mahkota Kerajaan Pajang. Beliau masih saudara dengan Pangeran Sumayuda (Syekh Abdul Jabbar) yang bermakam di Nglirip, Singgahan. Sedangkan Mbah Jabbar sendiri merupakan cucu dari Jaka Tingkir, dan masih saudara dari Pangeran Purbaya, penyebar agama Islam di Rengel. Selain penjelasan diatas, masih begitu banyak silsilah dan nama-nama para Wali di Bumi Wali ini yang akan kita bahas di lain waktu.

Kontribusi para Wali dalam pembangunan daerahnya memberikan corak tersendiri. Seperti Alun-alun kota Kudus, Demak dan Gresik, Alun-alun kota Tuban juga menerapkan tata ruang ala Wali yaitu di sekeliling Alun-alun ada Masjid Agung, Pasar, Kantor Pemerintahan dan Penjara atau Lembaga Hukum yang keempatnya di atur mengelilingi Alun-alun. Sehingga, tempat tersebut dengan mudahnya di kenali sebagai pusat kota.

Tentu kita tak melupakan metode penyebaran Islam oleh para Wali salah satunya melalui kesenian. Kesenian asli Tuban yang di sentuh oleh nuansa Islam diantaranya adalah Wayang Krucil, Gelut Pathol serta Sandur. Sunan Bonang sendiri memiliki keahlian dalam memainkan alat musik Gamelan. Serta Sunan Kalijaga dengan Wayang Kulitnya. Karenanya Islam turut serta dalam memperkaya seni dan budaya yang telah lama mengakar dan menjadi hiburan bagi masyarakat Tuban.

Jejak para Wali semakin terasa nyata dengan banyaknya legenda yang ada. Seperti kisah sumur Srumbung, Watu Gajah, Bukit Wilis, hingga yang berbau mistis seperti mitos ikan Gua Ngerong dan Mata Air Krawak. Jejak-jejak beliau semua senantiasa kita ambil hikmah dan ajarannya agar identitas Tuban semakin mengental dan mampu memikat siapa saja baik dalam dimensi religi, sosial, ekonomi dan lain sebagainya. Serta mampu mengggaet masyarakat baik tingkat Regional, Nasional maupun Internasional. 

Advertisements