Teruntuk kalian yang pernah belajar di Pare meski hanya sebentar maupun yang masih disini, apalagi yang sudah bertahun-tahun mengabdi di kampung Inggris dan teman-teman yang mungkin ingin kesini atau hanya sekedar ingin mengetahui saja😁

5 bulan berlalu sejak saya datang dan resmi belajar di salah satu Lembaga Khursusan di Pare bernama Genta Course. Jangankan 5 bulan atau setahun (diploma), yang hanya mengambil paket dua Minggu atau sebulan pasti memiliki beberapa cerita disini. Karena itu, saya ingin menulis beberapa hal yang berkesan hingga yang aneh yang mungkin hanya ada di Pare, dan yang menjadi ciri khasnya.

Pare itu…

1. Miniatur Indonesia 

Pare seperti tempat wisata dimana semuanya berasal dari daerah yang berbeda dengan satu tujuan : mencari ilmu. Ribuan orang datang setiap bulannya, dan menyatu di ratusan lembaga khursusan yang mereka tuju. Siapa yang menyangka saya bisa kenal dengan orang Sunda? Madura hingga luar Jawa seperti Sulawesi, Kalimantan dan Papua? Ini seperti perkemahan tingkat nasional saya pikir, dimana di tenda (khursusan) saya harus bersama dengan regu sebagai keluarga, namun ketika keluar ke lapangan (pare) saya masih bertemu lagi dengan penghuni tenda-tenda yang lain, di tempat yang sama, dengan tujuan yang sama. Saya bersyukur, saya mengenal mereka. Tahu adat, kesenian, cerita hingga bahasa daerah mereka. Hanya syaratnya seberapa pintar Anda bergaul dan membangun pertemanan, saya yakin, Pare tempat yang tepat untuk membangun jaringan pertemanan karena seperti yang saya katakan, ini adalah miniatur Indonesia.

2. Semangat belajar 

Mereka datang karena butuh bahasa Inggris! Inilah alasan mengapa semangat luar biasa ada disini. Akan terlihat puluhan orang berjalan atau naik sepeda berangkat ke tempatnya masing-masing mulai dari jam 5.15 pagi. Hal ini berlanjut selama sehari hingga malam hari. Dimana mata memandang, akan ada para pencari ilmu. Dimana mata tertuju melihat sebuah khursusan, disana ada belasan hingga puluhan orang belajar, membaca hingga pidato bahasa Inggris. Hal semacam ini hanya aku temui di dua tempat. Pertama adalah hal tersebut, kedua adalah di pondok pesantren ketika bulan puasa (khataman kilat). Luar biasa… Kemana-mana membawa buku, bahkan di jam istirahat pun masih banyak teman yang belajar dan belajar, atau merangkap ke khursusan lain. 

3. Tempat terbaik untuk yang membutuhkan bahasa Inggris 

Ada lima alasan. Pertama, lingkungan dan suasana pare sangat mendukung. Dalam arti, kampung Inggris memang diperuntukkan bagi mereka yang haus akan bahasa. Seperti nomor dua tadi, semangat teman-teman disini secara tidak langsung sangat berpengaruh. Dan berlakunya English area (wajib berbicara Inggris) tentu memaksa kita terus berkembang. Kedua, kualitas terbukti. Sejarah panjang kampung Inggris tidak bisa diremehkan. Ketiga, bisa memilih sesuai kebutuhan. Merasa kurang bagus dalam percakapan? Ambil kelas speaking. Susah mengerjakan tugas kuliah atau ingin jadi guru? Ambil kelas grammar. TOEFL Dan IELTS, Begitupun pronunciation hingga ke Mandarin, Jepang, Germain dan banyak lagi. Semuanya lengkap. Atau ingin mendapatkan semuanya dengan jangka waktu yang lama seperti program 6 bulan BEC dan program Diploma Genta? Silahkan pilih… Keempat, disini anda tidak sendirian. Dalam arti, kita belajar bersama. Maka ketika menemukan keganjalan dalam pelajaran, bisa minta bantuan ke teman Asrama hingga ke orang yang lewat di jalan. Terakhir, buku disini sangatlah murah! Tentu ini sangat membantu dalam belajar bahasa karena buku dan bahasa adalah saling melengkapi.

4. Mahal dan murah

Ada yang bilang pare itu semuanya mahal. Rata-rata mereka yang berkata seperti ini adalah penduduk Jawa yang biasa makan pecel 5rb+es teh. Sebaliknya, bagi orang Jakarta, Kalimantan dan luar Jawa, menganggap makanan disini murah. Saya sendiri condong ke yang mahal tadi 😂namun, kembali ke kita. Warung sebelah asrama saya (Steven) harganya sangat murah. Jadi, itu kembali ke kemapuan kita mencari tempat makan dan juga selera masing-masing. Namun, untuk buku, sangat murah dan lengkap. Untuk baju, sepatu dan yang lainnya, saya belum bisa memastikan apakah disini termasuk murah atau bukan, karena saya sendiri hanya sekali membeli baju di pare dengan harga 70rb (kemeja), murah? Mahal? Entahlah…

5. Sepeda (onthel)

Yang menjadi sorotan disini adalah transportasi para pelajar : sepeda. Disini sangat banyak rental sepeda dengan berbagai macam model dan harga. Jika saya ibaratkan secara singkat, 6 dari 10 orang dijalanan Pare (terlebih jalan Brawijaya dan Anyelir) adalah pengendara sepeda. Lalu 3 sisanya pejalan kaki, dan 1-nya motor. Sudah dapat dipastikan kalau ada orang naik sepeda dengan tas/buku yang dibawa, ia adalah pelajar Pare. Lalu yang berjalan biasanya mereka yang dapat kost dekat dengan tempat belajar, dan mereka yang naik motor, bisa 89% kemungkinan dia adalah tutor atau guru bahasa.

6. Cafe dan WiFi

Dari warung kopi pinggir jalan, sederhana hingga yang kelas paling mewah semuanya ada disini. Tentu harga berbanding lurus dengan tempat. Dan WiFi adalah alasan kenapa saya sangat betah di pare 😂 dari asrama hingga ke Campus HP selalu online dari WiFi, dan itu cepat. Tergantung seberapa cerdik kita mendapatkan password dari semua cafe yang ada. 

7. Weekend 

Setelah lima hari full memikirkan pelajaran, Sabtu dan Minggu layaknya hari kebebasan bagi semua. Malam Minggu di pare benar-benar luar biasa. Dan jangan lupa car free day (CFD) pada Minggu pagi di sebelah stadion, akan menjadi titik fokus para anak khursusan untuk melepaskan pikiran, dan mungkin mencari beberapa kenalan sambil senam dan olahraga lain. Sangat semarak! Jadi, weekend adalah hari yang tepat bagi kalian yang ingin tahu seberapa rame pare itu, seberapa ganteng/cantik mereka, dan ada kemungkinan untuk mencari jodoh!

#lanjut di part 02

Advertisements